nntp2http.com
Posting
Suche
Optionen
Hilfe & Kontakt

Empek-Empek Bakar Bikin "Model" Me-"Lenggang"

Von: Hangtuah Digital Library (hdl@hangtuah.or.id) [Profil]
Datum: 22.03.2009 01:49
Message-ID: <fea04a98-d6df-42d8-8966-767d77120bae@s38g2000prg.googlegroups.com>
Newsgroup: alt.sci.tech.indonesiansoc.culture.indonesia cu.indonesia alt.soc.indonesia.mature alt.culture.indonesia
Pempek makanan khas Palembang

JALAN-JALAN ke Kota Palembang tidak afdol kalau belum mencicip makanan
khas serambi Sriwijaya itu. Apalagi kalau bukan empek-empek.

Makanan khas Palembang ini memang banyak dijumpai di berbagai kota di
Indonesia, seperti Jakarta. Namun, rasa empek-empek di sana benar-
benar beda lho. Macamnya juga lebih banyak dari yang dijual di daerah
lain.

Ada yang namanya lenggang, empek-empek panggang, empek-empek keriting,
dan model. Saat ke kota itu, Kompas.com baru tahu kalau jenis empek-
empek bukan hanya lenjer atau kapal selam. Nah, kali ini Kompas.com
akan mengupas tentang lenggang dan model.

Pertama, lenggang. Cara memasak empek-empek ini sangat berbeda dan
unik ketimbang jenis empek-empek lain. Pertama, telur bebek dimasukkan
dalam daun pisang yang telah dibentuk menjadi persegi empat. Kemudian,
sambil dipanggang, potongan empek-empek lenjer dimasukkan dan diaduk.

Saat sudah masak, penampilan lenggang sungguh menggugah selera dan
membuat tangan melenggang untuk mencomot empek-empek berbentuk persegi
panjang itu. Soal rasa, tak perlu diragukan lagi. Rasa tawar telur
bebek dan ikan dalam lenggang menyatu di mulut bersama cuka asli khas
Palembang.

Cara menyajikan dan memakannya sama dengan empek-empek lain. Hanya
saja, masyarakat Palembang lebih suka memakan lalu meminum cuka,
ketimbang mencelupkan empek-empek ke dalam cuka sebelum makan. Tapi,
jangan coba-coba hal itu jika Anda memiliki penyakit maag. Salah-
salah, bisa kumat sakitnya.

Cuko adalah saus berwarna hitam kecoklat-coklatan yang dibuat dari air
mendidih, kemudian ditambah gula merah, cabe rawit tumbuk, bawang
putih, dan garam. Cuko adalah teman makan pempek yang setia, dibuat
pedas untuk menambah nafsu makan.

Demikian pula dengan model. Empek-empek berkuah ini cocok disantap
ketika musim penghujan karena mampu menghangatkan badan. Campuran
rempah-rempah di dalamnya menghasilkan aroma wangi khas bercampur
aroma ikan. Irisan daun bawang dan taburan bawang goreng menambah
harum racikan masakan itu. Hmmm… nikmat….

Tak seperti empek-empek lain, model hanya diberi sedikit cuka atau
cuko (dalam bahasa Palembangnya) yang dicampur dalam air. Rendahnya
kadar cuka di makanan ini terasa nyaman di perut sehingga cocok untuk
orang yang memiliki penyakit maag. Kuahnya terasa agak asin, pas
dengan lidah masyarakat Sumatera yang suka makanan asin.

Harga kedua empek-empek ini bervariasi. Biasanya dijual dengan harga
Rp 5.000 ke atas.

Makan empek-empek seperti ini akan terasa lebih nikmat jika dilengkapi
dengan kerupuk palembang atau kemplang. Macam kerupuk palembang ini
pun bermacam-macam. Ada yang berukuran kecil dan ada yang berukuran
besar. Namanya pun berbeda-beda.

Menurut masyarakat, nama empek-empek atau pempek berasal dari sebutan
"apek", yaitu sebutan untuk lelaki tua keturunan China. Sekitar tahun
1617 seorang apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan
(tepian Sungai Musi) merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang
berlimpah di Sungai Musi. Hasil tangkapan itu belum seluruhnya
dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang. Si
apek kemudian mencoba alternatif pengolahan lain.

Dia mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka sehingga
dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para
apek dengan bersepeda keliling kota. Oleh karena penjualnya dipanggil
dengan sebutan "pek … apek", maka makanan tersebut akhirnya dikenal
sebagai empek-empek atau pempek.

Saat mengunjungi Palembang, Kompas.com mencoba memakan empek-empek
bersama kemplang. Ada satu kemplang yang menarik perhatian, yaitu
kemplang retak seribu. Kemplang ini berbentuk bola setengah. Bagian
luarnya ada banyak retakan. Oleh karena itu, kemplang ini disebut
kemplang retak seribu.

Rasa makanan kerupuk berwarna putih gading ini seperti layaknya
kerupuk palembang di Jakarta. Hanya rasa ikannya yang lebih pekat yang
mampu membedakan kemplang Palembang dan Jakarta. Sayangnya, baik
lenggang, model, maupun retak seribu belum dijual di luar Palembang
dan Sumatera Selatan.

BOB
© 2008 - 2009 Kompas
http://resep.hangtuah.or.id

[ Auf dieses Posting antworten ]