nntp2http.com
Posting
Suche
Optionen
Hilfe & Kontakt

Nyabu

Von: Hangtuah Digital Library (hdl@hangtuah.or.id) [Profil]
Datum: 23.03.2009 05:49
Message-ID: <ec58efe3-9c80-404f-821a-a2a6dbe011c4@u39g2000pru.googlegroups.com>
Newsgroup: alt.soc.indonesia.mature alt.business.insurance.indonesia alt.culture.indonesia alt.sci.tech.indonesiansoc.culture.indonesia
Menggoyang Lidah dengan Bubur

Bubur biasa disantap saat sarapan, namun tak aneh juga jika dimakan
pada malam hari atau menjelang subuh. Bahkan, belakangan makanan yang
disajikan panas-panas ini diminati orang untuk makan siang. Pilihan
orang nyabu atau menyantap bubur karena tidak membuat perut kenyang
bak makan nasi.

Kehadiran bubur ayam atau ikan di depan mata sungguh mengundang
selera. Apalagi jika aroma bubur itu dilengkapi dengan lauk seperti
telur pitan, cakwe, tumisan sayur dan lainnya, tentu tambah nikmat.

Olahan beras lembek ini banyak dijumpai di Jakarta dari kelas kaki
lima sampai restoran kelas atas. Di antaranya, penikmat bubur mahfum
dengan nama seperti bubur ”hostes” di Jalan Mangga Besar (Jakarta
Barat), Bubur Ayam Cikini di Jakarta Pusat, Bubur Ayam dan Nasi Ayam
Hainam Hayam Wuruk, Bubur Furama Jalan Hayam Wuruk (Jakarta Barat),
atau Bubur Kwangtung Jalan Pecenongan (Jakarta Pusat).

Di Jalan Mangga Besar I terdapat lima kedai atau restoran bubur, di
antaranya bubur Mangga Besar I dan Bubur Sanki. Lantaran penggemar
semakin banyak, sajian bubur makin berkembang dengan banyak variasi
yang menambah nikmat dan sehat menu serba bubur.

Restoran bubur yang cukup populer di Jalan Mangga Besar I ialah Bubur
Ayam Mangga Besar I milik Herry Himawan (62). Restoran ini mulai
kebanjiran ”penyabu” sejak menyajikan menu pada sebuah pesta di hotel
berbintang di kawasan Senayan, Jakarta Pusat.

Herry mengaku resep bubur ayam diperoleh dari ayahnya, Fong Ah Yin,
yang membuka usaha bubur ayam di Medan. Setelah hijrah ke Jakarta
tahun 1992, Herry membuka kedai di Jalan Mangga Besar I.

Bubur racikan Herry tak berbeda dengan tampilan bubur ayam pada
umumnya. Bedanya, suwiran daging ayam kampung justru terkubur dalam
bubur. Selain bubur ayam, kedai ini juga menyediakan bubur ikan. Bahan
bubur sama, cuma ayam diganti irisan ikan gurame dan gabus. Ikan
mentah segar diguyur bubur gurih membuat daging ikan cepat masak.

Begitu masakan tersaji, bau minyak wijen tercium. Di atas bubur ayam
atau ikan yang dibumbui jahe ini ditaburi irisan daun bawang. Daging
ayam dan potongan ikan tidak terlihat di atas. Namun, begitu bubur
diaduk, akan tampak potongan daging ayam atau ikan.

Rasa daging ayam dan ikan ini begitu terasa ketika sendok pertama
masuk dalam mulut. Rasa gurih di sela-sela kunyahan muncul karena
suwiran daging direbus dengan dibumbui jahe.

Agar lidah semakin bergoyang, sumpitlah cakwe dan sayur asin.
Melengkapi hidangan itu, comot aneka lauk seperti potongan daging ayam
rebus, telur pitan berwarna coklat, tahu atau telur kecap. Rasa akan
semakin tajam jika bubur dituangi irisan cabe bercampur kecap asin.

Akan tetapi jika ingin menyantap bubur dengan rasa berbeda, cobalah
bubur kepiting dan bibir pie oh atau kura-kura yang menjadi andalan
Resto Bubur Kwangtung yang disajikan dalam porsi besar. Bubur putih
berisi kepiting atau daging kura-kura (biasa untuk obat) dilengkapi
dengan kacang tanah goreng, irisan daun bawang, dan cabe dicampur
kecap asin.

Kepiting terkubur dalam bubur. Balik saja tubuh kepiting berwarna
jingga itu, tersembullah telur kepiting yang gurih dan daging yang
manis.

Bubur tiochiu

Mau makan bubur yang disajikan mirip restoran Padang? Datanglah ke
Resto Furama. Pembeli bisa memilih langsung lauk dan sayuran yang
ingin dia santap bersama bubur. Cobalah bubur tiochiu, bubur ala etnis
China suku Tiochiu.

Bubur tiochiu tidak bisa disebut sebagai bubur ayam. Bubur ini tidak
memakai ayam sebagai kaldu bubur. Daging ayam juga bukan satu-satunya
protein yang dipakai, sebab ada ikan, jamur, daging sapi, ceker ayam,
tumis kailan, dan sebagainya.

Menyantap bubur ini sama seperti menyantap nasi dengan lauk-pauk,
hanya saja nasinya diganti dengan bubur. Jadi, memakan bubur ini tidak
menyebabkan perut terasa penuh.

”Makanya, bubur ini cocok dimakan malam hari. Cocok bagi orang yang
kelaparan, tetapi tak ingin makan berat,” kata Badi Herman, Manajer
Promosi Furama pada Rabu (5/11). Kebutuhan makan bubur pada malam hari
sangat tinggi. Buktinya Furama harus menyediakan bubur dari pukul
18.00 hingga pukul 04.00, selama 365 hari setahun, karena pemakan
bubur terus ada.

”Ramainya memang dari pukul 22.00 hingga 02.00. Kalau akhir pekan,
pengunjung harus mengisi daftar antre,” kata Badi. Tamu yang datang
beragam. Walau Furama telah mengubah konsep menjadi restoran keluarga,
namun pengunjung usia muda tetap terbanyak terutama pada tengah malam.

Restoran tersebut menyediakan 60 macam lauk, namun tiap hari hanya
disajikan 40 macam agar ada penggantian. Restoran berdaya tampung 400
orang ini menyajikan keripik cumi dan cumi telor yang gurih. Siapkan
lidah Anda digoyang lezatnya bubur....

© 2009 Kompas
http://resep.hangtuah.or.id

[ Auf dieses Posting antworten ]